Sebelum kalian membaca tulisan ini lebih dalam, gue akan memberikan catatan terlebih dahulu bahwa tulisan ini tidak ada maksud untuk menyombongkan atau memamerkan diri. Tulisan ini hanya sebatas memberikan motivasi dan juga semangat kalian yang membaca.
--
Masing-masing dari kalian pasti punya impian atau cita-cita yang ingin dicapai dan diwujudkan di dalam kurun waktu tertentu atau batas waktu.
Tapi pernah nggak kepikiran bahwa semua (sebagian besar) impian dan cita-cita yang ditulis atau direncanakan itu terwujud lebih cepat dari kurun waktu yang sudah ditentukan?
Gue masih inget pas lulus SMK, nulis beberapa impian dan juga cita-cita yang harus dicapai dalam kurun tertentu. Dan sebagian besar impian itu sudah terwujud. Lebih cepat. Yang seharusnya impian terwujud 5 tahun setelah lulus SMK atau 5 tahun setelah lulus kuliah tapi terwujud saat ini juga.
Setelah lulus kuliah gue punya impian bekerja sebagai Admin staff dengan gaji X. Di usia 19 tahun, sudah terceklist bahwa impian itu sudah terwujud dengan gaji yang diimpikan. Begitupun posisi/jabatan yang diimpikan, Tuhan kasih lebih dari ekspektasi gue.
Tepat 18 Oktober kemarin, gue dipanggil atasan/lead di kantor bahwa gue akan di assign sebagai Team Leader/Business Development Lead sekaligus Assistant beliau. Dia nanya, take it or leave it? I chose, take it. Sejujurnya, mengenai hal ini orang tua belum diinfokan. Ceritanya, mau surprise. Hahaha..
Tentang kuliah, yang seharusnya dibiayain oleh orang tua sekarang, bisa mandiri. Terima kasih Tuhan.
Sebelum akhirnya ada titik ini, gue pernah ngalamin gagal karena SBMPTN dan SNMPTN dan akhirnya gap year setahun dengan alasan masih ambis ngejar PTN. Dengan sombongnya, nggak mau masuk PTS. Astagfirullah, maafin gue yang dulu.
Orang tua juga sudah suruh masuk PTS aja. Alhasil, mereka gak support buat masuk PTN. Termasuk buat beli buku atau ikut TO gratis yang mana perlu uang. Beruntungnya dari dulu sudah diajarin nabung. Uang jajan dari Abang dibeliin buku pocket gitu. Harganya seratus ribu (seinget gue). Beli di Gramedia Kalibata abis pulang TO di Kampung Melayu, ujan-ujanan dan sendirian. Sendiri lagi dan selalu. HAHA (curhat).
Terus untuk ngisi waktu luang, iseng-iseng dapet kerjaan dari Instagram di Kedai Pisang gitu deket rumah, dengan gaji kurang dari Rp1.500.000 per bulan. Gaji pertama gue pakai buat beli paket Zenius selama setahun buat belajar SBMPTPN. Alhasil, Cuma ke pakai beberapa bulan karena gue sudah mulai kerja ditempat sekarang dan melanjutkan Pendidikan di tempat lain.
Semua yang terjadi bukan tentang usaha aja, tapi juga doa. Membiasakan shalat dhuha atau shalat tahajjud adalah salah satu kuncinya. Kalau cuma bisa mengerjakan shalat dhuha, it’s ok. Dan sebaliknya.
Waktu itu teman gue bertanya sama gue, “Emangnya itu (shalat dhuha atau tahajjud) beneran da?”. Disitu gue langsung kaget dan bingung harus jawab gimana. Mencoba aja belum, gimana bisa membuktikan bahwa shalat dhuha atau tahajjud itu beneran ‘membantu’.
Percayalah kalau perlahan menerapkannya dan urusan kalian dipermudah atau doa terkabul perlahan, kalian akan menjadikan shalat dhuha atau shalat tahajjud sebagai suatu ‘kewajiban’ dan melaksanakannya terasa ringan tanpa beban.
Masalah jodoh? Sudah pasti gue sebut di setiap shalat wajib dan sunnah. Tinggal masalah siapa dan kapan. HEHEHE.
Pernah nggak nangis karena Tuhan baik banget sama kita? Gue pernah. Sering, gak sering juga si. Intinya, jangan lupa untuk bersyukur. Semakin bersyukur, semakin Tuhan akan kasih lebih. Masih banyak sebagian impian yang sudah terwujud dan nggak bisa gue sebutkan.
Tapi intinya tetap:
Berusaha. Berdoa. Bersyukur. Beramal.
Terima kasih, semoga tulisan ini bisa memotivasi kalian ya. Aamiin.
Comments
Post a Comment