Skip to main content

Bukannya pelit...

12.00 WIB. Waktu istirahat tiba. Seperti biasa gue dan temen kantor gue makan dikantin dekat SD. Memang disana rame dan banyak tukang jajanan. Wajar, karena memang lokasi dekat dengan perkantoran dan sekolahan. Salah satu tempat makan favorit kita adalah bakso bang jony. Whateverlah, kata abangnya begitu namanya. Selain murah meriah harganya, rasanyapun juga enak. Hehe maklum ya cewek-cewek suka yang murmer dan enak. Yang penting kenyang. Hehe. 

Beragam pesanan dan permintaan bermunculan. 

"Bang bakso 1 campur"
"Mas minta es teh dong mas"
"Mas minta kuahnya dikit dong"

Pada saat gue dan teman-teman gue makan, menikmati bakso disiang hari. Ada dua orang pengamen dateng. They're boys with tattoo. Yang satu bertugas untuk bermain gitar dan yang satu lagi bertugas untuk menyanyi dan memegang sebuah kantong yang untuk menaruh uang terbuat dari plastik permen. Mereka keliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan dalam satu haripun mereka bisa lebih dari 2x balik lagi ketempat yang sama. Hanya untuk mengamen. 

Gue gak ngasih mereka duit. Bukannya gue pelit. Kalo gue pikir-pikir usia mereka masih muda. Walaupun masih mudaan gue hehe. Mereka masih bisa bekerja. Fisik merekapun masih kuat dan mampu untuk bekerja. 

Yang lebih mirisnya lagi. We don't know. Bisa aja uang yang mereka dapatkan dari hasil ngamen digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Misalkan dari hal kecil aja. Mereka gunakan untuk merokok.

Secara gak langsung, ketika kita ngasih duit ke mereka itu malah membantu mereka untuk melakukan hal-hal negatif dan membuat mereka semakin menjadi pengangguran

Memang dizaman sekarang sulit untuk mendapatkan pekerjaan. But you can try another ways.

Gue bukannya menghasut kalian untuk tidak memberi duit ke mereka. Ya itu si terserah kalian, toh itu uang kalian sendiri bukan dari gue. wkwk lol. 

Jadi ingat ketika dulu zaman gue SD umur sekitar 10 tahun. Waktu itu gue lagi nonton tv dengan kakak laki-laki gue diruang tamu. Pada saat itu pintu ruang tamu memang terbuka. Lagi asik nonton tv tiba-tiba datanglah seorang lelaki masih muda sekali memakai pakaian muslim a.k.a baju koko lengkap dengan peci sambil membawa karung berwarna putih. Entah apa yang ada didalam isinya. 

"Assalammualaikum.. Amal jariyah" kata lelaki itu.

Dengan spontanitas gue langsung menghampiri lelaki itu "Maaf ya mas" sambil menutup pintu secara perlahan. 

"Bilang da kedia, masih bisa kerjakan ?" saut kakak gue seraya menyuruh gue untuk mengatakan hal itu ke lelaki tadi. 

Dan beberapa minggu yang lalu, lelaki itu lewat depan rumah gue. Berpenampilan yang sama pada saat gue masih sd. Sekarang umur gue 18 tahun, hingga gue berpikir "Anjir 8 tahun kerjaannya masih sama, astagfirullah"

Well, gue pribadi prefer memberi duit ke pengamen atau pengemis yang memang sudah lanjut usia, keadaan fisik yang benar-benar tidak dapat atau bahkan tidak mampu untuk bekerja. Namun gue bener-bener salut sama orang tua yang sudah lanjut usia tapi masih ingin bekerja dan bahkan tidak ingin mengemis atau meminta ke orang lain. 

Ada juga pengemis yang berpura-pura cacat padahal fisik merekapun tidak kenapa-kenapa. I don't know what in her/him mind. Bagaimana jika suatu saat nanti Tuhan benar-benar memberikan kecacatan pada dirinya ? 

Astagfirullah.. 

Sekian, terima kasih. 




Comments